Selasa, 25 Januari 2011

LaVa Tour





Jumat, 7 Januari 2011
Tahun 2011 ini dimulai dengan travelling bersama teman ke kaki gunung Merapi. Ya apalagi kalau bukan wisata bencana Lava tOur. Anak yang ikud kali ini hanya sedikit, sebagian besar adalah cowok (14) dan yang cewek hanya 3 orang termasuk aku. Sedikitnya anggota yang ikud dikarenakan kurangnya sosialisasi dan cuaca yang kurang mendukung. Selain itu  dalam menentukan waktu pemberangkatan  yanh kurang pas (sore hari) dan dapat dipastikan akan pulang malam (cewek2 yang kos ada batas waktu pulang malam). Ok tapi itu semua gak menghalangiku untuk ikud , secara acara bersama teman selalu menyenangkan dan memang aku penasaran sekali dengan keadaan di wilayah bekas bencana tersebut. Pemberangkatan dimulai pukul setengah 4, dan sampai disana sekitar pukul 4:15, keadaan disana berkabut dan mulai gelap karena langit tertutup mendung.




Ada jalanan yang kami lalui tertutup lahar merapi dan karena itu beberapa teman sempat kesulitan melewatinya, dan tentu saja ban montor yang tidak bersahabat dengan pasir menyebabkan motor terperangkap pasir. Tapi Alhamdullilah semua berakhir dengan baik. Ketika melihat pemandangan wilayah bencana secara langsung yang pertama terucap adalah Asma Allah. Well memang sungguh menggenaskan,..tanah yang aku injak bersama teman-teman ini ternyata dulu adalah perkampungan yang normal, tapi sekarang hanya berbentuk padang pasir berasap balerang. Ini sungguh bencana yang dahsyat, gunung Merapi yang letaknya 16 dari desa Kinahrejo  dapat memuntahkan Wedhus Gembel dan menghancurkan wilayah ini hanya dalam satu malam. Pada gundukan pasir masil keluar asap balerang yang cukup pekat, selain itu tanah tempat keluarnya asap masih sangat panas padahal bencana tersebut sudah terjadi 2 bulan yang lalu. SubhanaAllah sungguh kebesaran Allah air yang diatas tanah juga sampai mendidih padahal bencana itukan sudah lama. 


Tak henti-henti aku terkagum-kagum oleh wilayah ini. Hem bagaimana mungkin rumah yang satu hancur dan rata oleh tanah sedang rumah di dekatnya tidak kurang apapun? Dan bagaimana bisa batu sebesar rumah dapat sampai disini padahal letak sumbernya begitu jauh? Aku benar-benar tidak bisa membayangkan malam kejadian bencana tersebut.  Oh aku yang waktu itu berada di Joga mendengar gemuruh merapi saja sudah sangat takut, apalagi bila aku ditempat ini pada waktu itu? begitu bergemruh, begitu panas, dan mencekam,  Uh aku tidak mau membayangkan. Aku disini bersama teman-teman akhirnya mulai terbiasa dan berusaha mengalirkan rasa senag pada setiap perjalan yang selalu kita lalui.




Menjelang Magrib kami meninggalkan tempat yang memperlihatkan  pada kita bahwa alam dapat pula bicara setelah mereka disakiti, bukan hanya manusiakan yang dapt berbuat begitu?  Aliran kesenangan mengalir kembali ketika salah satu teman yang tidak ikud travelling mengundang makan di rumahnya, secara kita adalah anak kos yang punya moto sikat makanan gratis langsung cabut dan Ok aja. Sampai kos pukul 10.30,..sangat melelahkan namun banyak pelajaran yang diambil. Its Fan For US

1 komentar:

PEta Q