Jumat, 02 Desember 2011

Menapak JeJak Di Gunung Gede Part 1

Melihatnya adalah anugrah yang terindah...
Menjamahnya adalah impian yang menjadi nyata...
Menapakinya adalah dunia penuh bahagia..
Ini Gunung Gede apa Pangrango ya? ato cuma Bukit?
( dilihat dari jalan menuju Basecamp)
.............
Bingung mau nulis dari mana, bagaimana, dan berahir seperti apa untuk kisah perjalan Gunung Gede ini.. ya karena terlalu banyak cerita yang harus dibagi selama 5 hari perjalanan melintas jejak pertualangan... Sebagai info ini  agak bukan gaya ceritaku ketika menulis cerita perjalanan..
Hari Pertama : Kamis Kelabu sekaligus Mendebarkan (10 November 2011)
19.30 : Persiapan untuk untuk berangkat dari kos...there is a problem with my little sister, huh..hampir terlambat menuju stasiun
20.00 : berangkat ke stasiun lempunyangan dari kos
20.20 :naik kereta Kahuripan menuju stasiun Padalarang.
Di Stasiun  Lempuyangan : Sebelum Berangkat

Hari kedua : 
05.30 : sampai Stasiun Padalarang mengerjakan sholat subuh, cuMUk, dll,
Bersantai sejenak di stasiun padalarang sebelum melanjutkan perjalanan
Sebuah pengalaman yang kayaknya bakal sulit terlupakan tapi tidak menutup kemungkinan untuk dilupakan. Jadi inilah cerita ku agar ini tak menguap begitu saja bersama 11 teman lainnya : Amin, Riris, mbk Mifta, mbk Nia, mas Bangkit, mas Adi, Mas Warih, mas Ressi, mas Nipong, Deni, dan Mas Jibon ketika hari pertama menapak tanah Pasundan...wkkk...Hari kedua setelah bersih-bersih diri  di Toilet stasiun kamipun melanjutkan perjalanan dengan menggedong ransel membelah jalan pasar untuk mencari warung nasi.


@ Stasiun Padalarang
Perjalanan semalaman tersebut cukup menguras energi jadi untuk melanjutkan perjalanan kita butuh asupan kalori, dan terpilihlan sebuah warung sederhana dengan pilihan lauk yang cukup menggiurkan. hhh. Setelah makan kami melanjutkan perjalanan untuk mengejar Bus menuju Bogor Via Puncak. Lagi-lagi kami harus berjalan untuk sampai ke tempat pemberhentian Bus, di sepanjang jalan kami terlihat keren, hhh serasa backpackeran ditengah kota. well...walo capek tapi aku sangat menyukai perjalanan itu habisnya terlihat keren banget sih.wkwkkw. Perjalanan sekitar 10 menit menuju Tol yang namanya entah aku lupa akhirnya selesai juga.,Lalin disana begitu crowded buat menyeberang aja kesulitan..sama kesulitannya kita ketika harus naik bus yang sebenarnya tidak boleh berhenti di Tol. Hemm dengan perjuangan secepat kilat memasuknya Carrier ke bagasi dan bergelantungan naik bis yang sudah berjalan kitapun akhirnya mampu duduk manis di bus jurusan Jakarta-Bogor. Ya tapi efeknya gak karuan karena habis makan lari-lari banyak teman-teman yang mual-mual dan bahkan ada yang mabuk..heheh, alhamdulillah aku enggak kenapa-kenapa.
Kantor TNGP tempat kita mengurus SIMAKSI
Setelah menempuh perjalanan hampir 3 jam, kita turun di Cipanas sekitar pukul setengah 11. Disana sudah ada beberapa angkot warna kuning yang siap mengantar kami ke Cibodas, base camp pendakian Gunung Gede Pangrango. Hemm..dan sekitar pukul 11 tanggal 11, bulan 11, tahun 2011 kita sampai di pos pendaftaran TNGP. Yup 11-11-11-11 adalah waktu bersejarah bagi kita ber dua belas karena inilah awal kita untuk memulai pertualangan.hhhh. Izin SIMAKSIpun di dapat, aku gak tau gimana ngurusnya, karena itu bagian cowok-cowok,kami para cewek hanya menunggu diluar saja.

Nunggu cowok2 yang sedang Jumatan Ditaman Kantor TNGP
Hari itu juga hari yang Mulia yaitu hari JUmat, kaum lelakipun bersiap-siap menunaikan sholat. satu lagi moment yang gak terlupakan sholat jumat di TNGP yang gak mungkin bisa dilakukan setiap minggu sekali.  Setelah itu kami menuju base camp bernama MONTANA.  Disana kami disambut ramah oleh para Volunternya..selama kami disana begitu banyak bantuan yang kami terima. Begitu banyak waktu luang sebelum sore dan beberapa dari kamipun berjalan-jalan..kkk, hiks aku gak ke air terjun.
Jalan menuju basecamp MONTANA
Ketika matahari menyusup keperanduannya perut kami sudah mulai berteriak untuk makan, dan kami para cewek-cewekpun masak dengan bantuan Aa' Volunter Montana (gak tw namanya). Kita masak oseng tempe dan Mie goreng..Yummii
Masak makan malam di basecamp MONTANA
makan malam tak telupakan di basecamp MONTANA
Dan Alhamdulliah malam itu kami bisa tidur nyenyak dengan perut kenyang sebelum besuk pagi menapak jejak ke Gunung Gede. Sungguh rasanya super dingin tidur disana aku sempat beberapa kali terbangun dari tidur karena merasakan hawa dingin yang tidak tertahankan.  Akhirnya matahari manampakkan cahayanya,,kami pun bersiap untuk perjalanan yang sesungguhnya. Setelah sarapan di Kantin sekitar jam setengah 10 kami berangkat dengan iringan doa semoga dapat kembali lagi dengan selamat.
Basecamp MONTANA tempat kita menginap sebelum pendakian di pagi hari
BERSAMBUNG..hhh
Part 2

Minggu, 27 November 2011

Cavetubing di GUa Pindul



kegelapan itu menelanku dalam...
menampakkan kegelisahan-kegelisahan tak berujung
dan menyapu semua harap dan mimpi
kegelapan itu membawamu masuk pada suatu ketidaktahuan
menghentikan waktu yang terus berjalan
dan menyimpan suatu misteri yang pasti
bahwa kita buta pada dunia
bahwa kita hanya manusia congkak di atas bumi...
bahwa kita bukan apa-apa...
dan pasti entah suatu saat nanti kan tertelan bumi dan menghadapi sekali lagi
 kegelapan nan amat pekat.

Berpose dulu sebelum masuk Gua
Wkkk...sungguh menyenangkan Hari Pertama di Tahun 1433 H ini aku awali dengan sebuah pertualangan...Semoga untuk hari-hari kedepannya akan ada pertualangan-pertualangan baru. Wwlll semua yang biasanya gak direncanakan itu kadang terjadi dan malah bisa menjadi kenyataan.  Dari niat untuk obsevasi berubah menjadi rekreasi itulah awal perjalananan kami menyusur Gua Pindul. Gua Pindul merupakan Objek wisata baru dengan banyak nuansa  pertualangan. Terletak di Desa Bejiharjo Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul Gua pindul menawarkan wisata yang tidak biasa. Seperti kita banyak ketahui bahwa Kabupaten Gunungkidul terkenal dengan wisata pantainya yang memukau, namun ternyata kini ada tempat wisata baru yang patut untuk para adventures coba : Susur Gua dengan cara Cavetubing. Sebenarnya apa sih cavetubing ini? yao kamipun sebelumnya juga tidak tahu, yah sebenarnya ini lebih tepat disebut sebagai cara susur gua dengan gaya rafting. Perlengkapan yang digunakan adalah Ban, pelampung, dan senter.
wkkk>..kyak di film bay Watch ya...cwek2 cantik yg mau masuk gua.hihihi
hemm...setelah sedikit wawancara dengan Bapak Subagya sebagai Ketua pengelola WISATA disana kami :  Aku, Ana, Mega , dan Icha yang tadinya tidak berniat untuk menyusur gua, akhirnya memutuskan juga untuk    mencoba cavetubing. Sebenarnya ada beberapa paket yang ditawarkan  seperti paket Rafting sungai Oyo ( Rp 45,000,-) paket susur gua kering Gelatik, dan paket cavetubing  gua Pindul (Rp 30.000,-).  hem Karena kami lebih tertarik untuk dengan gua pindul kamipun memilihnya untuk acara senang-senang mingggu ini. kkklk... well karena tidak bawa baju ganti makanya aku, icha, dan mega memutuskan untuk menyewa baju dengan harga Rp 4000,-. Harga Rp 30.000,- yang kami bayar ternyata tidak termasuk pakaian, dari harga itu kita mendapat : 2 pemandu+2 senter, Ban, pelampung, sepatu anti air, dan Asuransi. 

Berdoa dulu sebelum masuk gua
Dari kesekretariatan kita harus jalan terlebih dahulu  kira-kira 300 meter untuk mencapai bibir Gua. Sebelum Masuk kita diberi nasihat terlebih dahulu untuk  jangan membuang sesuatu atau mengambil sesuatu di dalam gua. Setelah itu kita juga diharuskan untuk berdoa bersama-sama terlebih dahulu agar selamat sampai tujuan. Amin...SAatnya masuk dalam Gua...waooow...pemandangannya sungguh memukau, disekitar mulut gua air sungguh berlimpah sehingga terlihat banyak anak-anak kampung yang mandi disana tanpa rasa takut. Bapak pemandu bertanya kepada kami, apakah merasa takut atau was-was...wkkk, kontan kami menjawab tidakk...hemmm, mengapa harus takut Naik gunung dan rafting pernah kami coba koq...wkkk, susur gua cermai juga pernah..., dari sini  terlihat sedikit tidak menantang kalau yang aku rasakan.
Ini lho yg namanya batu keperkasaan...wkkk

Batu Tirai.
Arus berjalan begitu tenang dan kami berempat duduk ditengah-tengah ban sambil berpegangan tangan berusaha tidak terlepas dan saling menguatkan. Adapun urutannya dari depan ke belakang adalah :  Pemandu 2 yang membawa kamera (masih anak SMP), Icha, Ana, Aku, Mega, dan Pemandu 1. Air yang berwarna hijau lumut terlihat tenang namun juga agak menyeramkan. Saatnya masuk Gua...tinggi Gua sekitar 7-12 Meter., awalnya kita masuk pada Zona terang disana masih terlihat cahaya walo tidak terlalu terang, disana pula kita sudah dihadiahi pemandangan stalagtit dan stalagmit yang masih aktif. Bapak pemandu menjelaskan proses terbentunya Stalagtit dan Stalagmit tadi dengan sangat fasih. cececekk jadi keingat MR Hadori dosen lapangan kita waktu di Gua Cermai 2,5 tahun lalu...

Sebelum masuk Gua
Zona terang terlewati, kita kemudian masuk zona Remang..dimana cahaya yang masuk dalam gua cukup sedikit dan terkesan remang-remang...disana kita bisa melihat batu tirai semacam stalagtit yang berbentuk seperti bunga dan batu keperkasaan..heheh.  Markinjut...(mari Kita Lanjut____>) zona Kegelapan Abadii..dimana cahaya tidak ada sedikitpun...di tempat ini kita akan  bertemu stalagtit dan stalagmit yang sudah menyatu dan disebut dengan SaKA gIRI (tIANG gunung) oleh penduduk sekitar.  Menurut keterangan pemnadu sebenarnya kita berada di bawah bukit dan Saka Giri inilah yang menyangganya. Dari situ aku jadi menyimpulkan kalo sebenarnya orang2 di Gunungkidul itu kebanyakan hidup di atas sungai bawah tanah dengan air melimpah. Jadi Slah besar kalo Gunungkidul itu kekurangan air, yang ada kekurangan sumberdaya untuk mengangkut air dari bawah ke permukaan bumi.  Di Zona Kegelapan abadi inilah senter dimatikan dan kami diarahkan pemandu untuk merenung betapa beruntungnya kita hidup di dunia ini dikaruniai sepasang alat penglihatan yang begitu sehat, serta perenungan2 lainnya. 
Melihat Stalagtit yang masih aktif
berjejer...dan bergandengan tangan

Perjalanan dilanjutkan lagi, kini terlihat cahaya dari kejauhan tapi ternyata itu bukanlah akhir, itu merupakan gua vertikal, Atap gua yang rubuh sehingga cahaya dapat terlihat. Disana areanya cukup luas sehingga terkesan seperti kita berada di kolam renang bundar berdinding Batu kapur,..airnya terlihat hijau bening menarik kita untuk berenang di dalamnya.  Sebagai tantangan kita pun terjun dari sebuah batu yang menempel di di dinding gua ke dalam kolam yang tingginya kira2 2-3 meter. Tidak terlalu tinggi namun untuk orang yang baru pertama kali terjun itu sungguh menakutkan. well untukku ini baru sebuah tantangan, yang pertama terjun adalah my little Sister Mega, terus aku, and Ana. Menunggu Icha terjun cukup lama...kita bertigapun tak henti-hentinya  untuk menyemangatinya agar jangan takut untuk terjun, Sip deh...salut buat Icha yang mampu mengalahkan ketakutannya itu. 
Gua vertikal (atap Guanya runtuh)

berpose sebelum terjun
Terjun....!1!!
Berikutnya kita menuju pintu keluar gua, Aku, Mega, dan Ana memilih untuk berenang tapi Icha memilih untuk naik ban..hemm, dasar manja sekali anak ini. Sampai luar gua...masih terdapat kolam yang cukup besar dan banyak anak kecil yang mandi dan terjun naik turun dari sebuar batu pada dinding gua...well kalo yang ini lebih tinggi kira2 4-6 meter... Aku mencoba yang pertama, kemudian Ana  dan terakhir Mega, sayang Icha cukup menjadi penonton saja di sini. kekek...Welll setelah itu aku mecoba satu kali lompatan lagi dan kamipun menuju basecamp/kesekretariatan karena sudah capek...ttt,..dan tepat pukul 11.30 kamipun meninggalkan dusun Bejiharjo menuju kota Wonosari (Ana langsung pulang ke rumahnya)..Aku dan Icha setelah makan di Wonosari  langsung balik ke Jogja dengan membawa banyak cerita. Mega Pulang ke rumah ..mungkin berbagi certita sama Ibu..hhh

Di pintu keluar gua: mengumpulkan keberanian untuk terjun

Perenungannku...
Ingatkah cerita Socrates tentang zona nyaman yang diceritakan kembali oleh Plato muridnya? itulah Gua dimana kita begitu senang hidup nyaman dalam kedinamisan yang kita ciptakan tanpa tahu cahaya.  Manusia dalam zona nyaman  Sepanjang hidupnya sebenarnya hanya melihat  bayang2 dunia di dinding gua yang tersinari sedikit cahaya tanpa  tahu akan keindahan di luar gua.  DAn  ketika ada seorang manusia yang ingin keluar dari Zona nyamannya malah mendapat tentangan dari manusia2 lain di Zona Nyaman...manusia itu begitu ingin tahu kebenaran dibalik dinding2 gua, tapi kemudian mati terbunuh ketika akan keluar karena ketakutan manusia penghuni gua lainnya...ketakutan akan kebenaran yang indah sekaligus menantang. 
Aku tidak mau seperti manusia  Socrates yang mati di bunuh oleh teman2nya yang menganggapnya berfikiran aneh dan berbeda, padahal beratus-ratus tahun kemudian buah fikirannya begitu menjadi panutan manusia sesudahnya. Aku tidak mau hidup dalam gua yang begitu palsu oleh keindahan, aku ingin keluar, berfikir out of the box, aku ingin melihat keindahan dunia, aku ingin menjadi petualang...walo penuh tantangan dan ketidaknyamanan tapi ini..aku...Aku yang ingin bebas sepeti burung...

Sabtu, 29 Oktober 2011

Ekspedisi Merapi "Satu Tahun Pasca Erupsi"

Bila kau yakin bisa, berarti kau pasti bisa...
Kau kalahkan egomu dan kau mendapatkan apa yang kau mau...
Setelahnya tidak akan ada penyesalan karena yang ada hanya kepuasan tiada tara....


Kawah Merapi dilihat dari Pasar Bubrah
Pra Pendakian
Keyakinan adalah bekalku untuk mendaki merapi, dengan sedikit bumbu berupa perang cerita petualangan lawan teman-teman Mec@_Ric4 R'08 yang Travelling ke Bromo. Semua sempurna untuk mengawali sebuah pengalaman baru. Berawal dari gagalnya rencana untuk mengikuti Festival Pertualangan Nusantara dan keputusan anak-anak satu kelas untuk Travelling Ke Bromo. hemm...Aku yang sudah pernah bertualang ke Bromopun dengan berat hati tidak ikut dan menerima keputusan teman-teman. NAmanya bukan Anes kalo menyerah begitu saja, hati yang bergejolak ingin merasakan sensasi petualangan setelah hampir 3 bulan terkukung dalam tirani KKN_PPL pun mencari agenda pertualangan baru, HHH. Untung ada Jo yang juga tidak bisa ikud ke Bromo karena alasan klasik 'gak punya duit" heheh.  Kami berdua menyusun rencana yang kami namakan Underground Plan karena rencana ini dibuat dibawah bayang2 rencana travelling ke BRomo  anak2  Mec@_Ric4 R'08  yang sangat terbuka. Ini juga termasuk politik menjaga hati kerena tidak mau teman-teman menganggap kami pembangkang..hehhe..(lebay dikit lah)
Well rencana ini sebenarnya sangat tidak matang karena kondisi alam yang tidak mendukung (sudah musim hujan coy) dan hemm..SIAPA YANG MAU IKUT? apa cuma aku sama Jo saja yang akan mendaki ? Amin my best friend? agak meragukan,..adik2 angkatan? sedang sibuk jadi panitia Semarak Geografi..teman2 yg gak ikud ke bRomo? sepertinya mustahil. Dan baru H-1 semua baru fiks,.mereka yang ikud adalah : 
1. Kami yang tidak ikud ke Bromo (Amin, Aku, Jo, dan Upik)
2. Kami Mantan Panitia Semarak Geografi ( Sapto, Pamungkas, Thomas, dan Baskoro)
3. Kami yang tidak ikud ke Nglangeran; acara anak NR'08 (Deni)
4. Kami anggota PURPALA : pura-pura pecinta alam (Resi)
5. Kami anak angkatan baru yang ingin merasakan rasanya menjadi The Real Geography  (Jay)
11 Anggota PALAGA

Menjelang Pendakian
Akhirnya perjalananpun dimulai, kami  bersepuluh (Resi sudah menunggu di Jl Magelang) berangkat dari Ormawa pukul 16.30 dengan naik motor di iringi awan mendung yang sempat menggoyahkan semangat. Namun dengan tekad yang kuat kami tetap berangkat. Sampai di daerah Ketep awan yang sudah jenuhpun akhirnya mengeluarkan tetesan hujannya dan mau tidak mau kami harus memaki jas Hujan.
Foto dulu di depan Ormawa
Setelah menempuh perjalanan hampir 2,5 jam akhirnya kami sampai juga basecamp pendakian  merapi. Basecamp tersebut merupakan rumah sederhana tempat para pendaki melepas lelah baik sebelum melaukan pendakian ataupun sesudah pendakian. Di basecamp tersebut kita bisa memesan makanan, sholat, tidur, buang air dan   menitipkan motor ketika tinggal untuk mendaki. Semua serba sederhana namun sangat mengena...
Makan NasGor di Basecamp Pendakian
Pendakian Merapi
Jarum jam menunjukan pukul 21.30 dan gerimis mulai menghilang. Setelah packing selesai kamipun berkumpul dahulu untuk berdoa bersama agar sepanjang perjalanan nanti kami diberi keselamatan dan dapat kembali tanpa kurang sesuatupun.,Amin. Langkah awal adalah langkah paling berat bagiku...baru sampai New Selo saja rasanya sudah mau mati kehabisan nafas padahal baru jalan beberapa menit. Itulah yang dinamakan nafas pertama pendakian dimana tubuh kita sedang menyesuaikan diri dengan jalan yg menanjak plus beban yang berat, ditambah suhu udara malam yang dingin. Perutku terasa kembung dan rasanya ingin muntah..benar-benar suatu perjuangan yang luar biasa untuk tetap berjalan.
Di  New Selo menungguku yang sedang kelelahan
Akhirnya aku sudah tidak kuat dan Jo pun membawakan tasku...hhh, syukur ada orang baik seperti Jo yang mau membantu temannnya dalam kesulitan walau diapun dalam kondisi serupa (membawa beban yang lebih berat). kaki terasa ringan dan nafas pun sudah aku atur...ketika itu aku meminta Tasku untuk aku bawa sendiri..hehe, kasihan melihat JO dengan beban seperti itu. Well...akhirnya akupun malah menjadi semangat dan berjalan didepan bersama Resi..malah resi memintaku untuk berjalan di depan karena senterku yang sinarnya berwarna kuning lebih bisa  menembus kabut daripada miliknya yang bersinar putih. Jalanan berbatu sangat terjal aku lewati, dan para pendaki lainnya mengikutiku dibelakang...kadang Resi memimpi ketika aku berjalan terlalu lambat. hww..Pass Break..kadang2 terdengar dari salah satu pendaki dan ketika itu pula kami menghentikan perjalanan setidaknya 2-3 menit hanya untuk sekedar duduk ataupun minum. Lambat namun pasti kami berjalan dan ternyata aku dan beberapa teman sudah terlalu jauh dengan Upik dan JO. ternyata Upik kelelahan dan sering istirahat,,lagi-lagi JO membantu untuk berjalan lambat dengan upik.
Beristirahat di Watu Belah
Jarum jam menunjukan pukul 23.30 ketika kita sampai di Watu Belah (pos 2)..kami putuskan istirahat disana untuk sementara waktu sambil menunggu JO dan Upik..atau sekedar makan gula jawa/roti dan minum air untuk memulihkan tenaga. Setelah semua Lengkap kamipun melanjutkan perjalanan..langkah demi langkah semakin berat namun harus tetap semangat,,tak henti2nya mulut ini menyebut Asma_Nya untuk membuatku bisa bertahan.  Kami pun istirahat dan ternyata jarak kami dengan JO/upik sudah sangat jauh..dan Resipun membuat keputusan agar kelompok ini tidak berjalan lambat maka dibuatlah 3 kelompok yaitu kelompok cepat, sedang, dan lambat. Kelompok cepat terdiri dari : Resi, Sapto,Thomas, Baskoro dan Jay, Kelompok Sedang : Aku,Amin, Deni, dan Pamungkas, Kelompok lambat : Jo dan Upik. Kelompok cepat merupakan kelompok yg membawa perlengkapan pendakian lengkap seperti tenda dan kompor, mereka bertugas berjalan cepat agar bisa mendirikan tenda dan masak sebelum kelompok sedang dan lambat datang. JAdi mereka berjalan cepat bukan karena egois tapi memang untuk memudahkan kami yg sedang dan lambat agar bisa langsung istirahat ketika sampai.

Pemandangan Sunrise yang memukau
Kelompok sedang bertugas menjaga jarak dengan kelompok lambat agar bila terjadi sesuatu bisa kami ketahui...Perjalanan kami teruskan, dan aku yang anggota kelompok sedang sampai di pos 3 : Watu Gajah sekitar pukul 02.00 dini hari ketika tenda sudah 90% berdiri. Setelah itu aku dan amin bersiap tidur,,hehe. Tapi sebelumnya kami buat mie dulu.yummi..., setelah itu kelompok lambatpun tiba.  Hemm..saatnya tidur..berselimut SB berjaket tebal...beratap tenda di atas gunung teraktif di dunia kamipun semua tidur dengan super nyenyak. Pukul 05.00 pagi kamipun bangun dan memulai aktifitas sarapan, sholat, dan buang air. Pukul 05.30 kamipun mulai perjalanan lagi untuk menuju kawah merapi

Bangun Tidur Langsung Dihadiahi Pemandangan Super Indah

Pendakian Kawah Merapi
suatu hal yang sungguh luar biasa ketika kita bangun tidur langsung disuguhi pemandangan sunrise yang luar biasa, kemudain tiba-tiba kita melihat suatu gundukan gunung yang mengepulkan asap...waww,,It is Wonderful Eksperience..Dan kamipun tergugah untuk mendakinya..Berjalan lagi, kini aku tanpa beban karena beban aku tinggal dipos. Aku berjalan menuju puncak bersama Deni, Baskoro, dan Thomas (lalu di susul Jo), Ketika sampai di pasar Bubrah kami sudah malihat beberapa pendaki yang terlihat kecil sekali di  puncak. Setelah itu dengan ketetapan hati yang dalam kami memutuskan mendaki gundukan pasir yang labil itu untuk melihat kawah merapi yang fenomenal, yang satu tahun lalu beraktifitas dan memakan banyak korban.
Pasar Bubrah : Lembah Datar  di Bawah Kawah
Allahuakbar...Akankah aku dan teman2 mampu mendakinya? kemudian kaki ini melangkah dengan ketetapan dan keberanian. Satu dua langkah awal terasa mudah tapi ketika sampai ditengah2, pijakan dan pegangan semakin labil. Setiap langkahmu tak hanya membahayakan dirimu tapi juga orang lain di bawahnya, karena ketika kau melangkah pijakan batu dan pasir yang labil itu bisa sewaktu-waktu menggelinding ke bawah mengenai orang dibawahmu. Rasanya semenit bagai setahun ketika itu...antara ingin menyerah dan terus bertahan, sehingga kami menyebut tempat pendakian itu sebagai "Lembah Penyesalan".
Jalan terjal menuju Puncak ( Lembah Penyesalan)
Dan akupun hampir menyerah ketika pijakan dan pegangan tak lagi mampu menopang tubuh itu..aku aku terbaring diatas pasir yg hampir vertikal tanpa bisa bergerak,,karena kalau begerak aku bisa jatuh,. Hiks..Help me?...beberapa teman sudah diatasku...dan yang paling dekat adalah Deni. Well akhirnya aku dibantu oleh Deni si kecil yang lincah. Setiap langkahku dipandu dan ditolong Deni,hh ketika aku tidak punya pijakan dia memberiku pijakan, dan ketika aku tidak punya pegangan dia mengulurkan tangannya untuk peganganku. Hikss..gak tahu deh kalo gak ada dia..bisa nangis kayak amin mungkin,, sampai2 diberi semangat sama orang lain..heheh. Akhirnya aku sampai juga di Pucak Kawah Gunung Merapi tepat pukul 08.00 WIB  hari Sabtu tanggal 29 Oktober 2011.
Puncak Kawah Merapi Nan Fenomenal
disana Sudah ada JO, Baskoro, dan Thomas..yang dari atas tidak henti2nya menyemangatiku untuk terus bertahan dengan mengatakan : Aku Wanita dr Geografi pertama yang pasti mampu mendaki puncak hari itu (thank bgt teman2 ). Setelah itu di belakangku menyusul Resi dan Jay....Waoww..pokoknya ini adalah suatu yang paling membahagiakan : perjuangan yang penuh peluh dan pengorbanan.
PALAGA band" keren banget"


Perjalanan Pulang 
Turun dari Kawah...
Tidak sampai satu jam kami di puncak merapi dan karena bila menunggu Amin, Sapto, dan Pamungkas sampai puncak itu terlalu lama. Sehinnga diputuskan untuk segera turun..di lembah penyesalan kami bertemu amin cs yang masih berjuang untuk naik. Dan Untung saja perjalanan turun tak sesulit perjalanan naik..heheh malah kayak main plorotan diatas pasir.  Yeah...lalu kami kembali ke bacecamp di Watu Gajah dan bersiap packing., Rasanya cuapek luar biasa ketika kami mulai tutun gunung..Ujung-ujung jari kaki sakit ketika menyentuh ujung sepatu...jadi aku saranin kalo turun gunung lbh baik memakai sandal gunung saja. Perjalanan turun kami awali pukul 12.00 dan sampai Bacecamp  di New Selo pukul 15.00. Hemm..fakta menarik ternyata Si Jay Maba yang masih unyu-unyu itu hari itu PUasa...wuih..luar biasa. 

TIAda kata untuk menggambarkannya...
ketika perjuanganmu berbuah asa....
Mimpimu bukan lah hal yang mustahil...
Bila kau yakin akan adanya kekuatan semangat...

Bekal ku mendaki adalah kata-kata Bella dalam Twiligt : Mind Over Matter (Tekad yang kuat mengalahkan Fisik yang lemah)